Cerbung: Sanjung Kepergian Dalam 4 Bagian
Bagian I: Siapa Yang Jahat? Tuhan?
Malam hari itu terasa lebih sunyi
dari biasanya. Kedua jarum pada jam dinding berada pada angka delapan. “bu, ibu
sudah makan?” Tanya seorang gadis remaja yang mengenakan kaos hitam dan juga celana
panjang hitam pada ibunya. Wajah-wajah pemain band ‘the beatles’ tergambar pada
kaos yang dikenakan gadis remaja itu.
“Belum, ibu belum makan. Tapi, tadi
sore ibu sudah makan kue yang dibawakan bibimu. Masih kenyang.” Jawab sang ibu.
Wanita yang umurnya hampir setengah usia kemerdekaan pada saat itu. Duduk di
kursi kayu memanjang, menghadap ke pekarangan rumahnya. Pekarangan yang banyak
tumbuh bunga anggrek. Disisi pagar rumahnya pun banyak menjalar tanaman anggrek
bewarna biru layu. “kamu kalo mau makan, ajak adikmu sana.” Lanjut wanita itu.
“Itukan tadi sore, bu. Lagian juga
ibu baru makan kue, belum kenyang pasti.” Jawab sang gadis remaja itu kepada ibunya, sambil
kemudian memanggil adiknya di kamarnya, di lantai atas. “Dik, turun dulu, kamu
tiap hari baca komik melulu.” Sedikit berteriak sang remaja itu memanggil
adiknya, padahal ia belum sepenuhnya berada di ujung anak tangga. Anak tangga
dari kayu itu berdenyit setiap kaki-kaki melangkah diatasnya. “Iya nanti, lagi seru.”
Sahut sang adik. “sekarang!” dengan nada kesal sang gadis remaja itu kembali
memanggil adiknya untuk makan malam bersama.
‘krek krek’ suara anak tangga berbunyi
diikuti dengan suara sang adik. “aku tuh belom laper banget, kak. Lagian hari
ini libur, gapapa dong aku baca komik seharian.” Adik dari gadis remaja itu
adalah seorang siswi yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sambil mengikat rambut
hitam panjang sebahu yang menutupi kedua belah telinganya, adik sang gadis
remaja itu menghampiri sang kakak yang telah menunggunya di meja makan kayu
bundar. Di tangannya, terlihat sebuah komik kucing biru yang saat itu banyak
digemari oleh anak-anak seusianya. Di atas meja kayu, tertata piring-piring dengan berbagai
macam makanan, yang harum makanan-makanannya tercium sampai tempat dimana ibu
mereka duduk.
“Ibu..” Panggil kembali sang
gadis remaja kepada ibunya. terlihat noda memerah kecil diantara kedua belah
mata gadis remaja tersebut. “Aku sudah masak makanan kesukaan ibu. Ayo bu makan
dulu.” Mendengar hal itu, wanita yang tengah duduk di kursi kayu kesayangannya
itu berdiri. Ada rasa ragu untuk menghampiri kedua anaknya. Terlebih, ada
sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada anak tertuanya.
Dengan langkah kecil sang ibu
dari kedua gadis, yang jika diperhatikan, wajah mereka tidak ada satupun yang
mirip dengan satu sama lain. “iya iya, ibu makan.” Menarik kursi dari meja
makan, sang ibu pun menuruti permintaan anak tertuanya itu. “Wah kamu sekarang sudah jago masak ya..ada
bakwan udang kesukaan ibu.” Puji sang ibu kepada anak tertuanya itu. “Tapi aku
lebih suka masakan ibu. Ayam goreng kecap ibu lebih enak dari bakwan udang
buatan kakak.” Sahut sang adik, sedikit mengejek kakaknya yang disusul oleh
cubitan ringan di lengannya oleh kakaknya. “aduhh sakit tau!” sedikit teriak
sang adik mengeluh sakit kepada kakaknya.
Gorden bewarna biru tua menutupi
setiap jendela rumah mereka. Tepajang banyak foto pada salah satu bagian
dinding di ruang tengah, yang posisinya tidak jauh dari meja makan dimana
keluarga kecil itu sedang berada. Namun, posisi foto-foto yang berderet itu
sedikit janggal, kurang rapi jika dilihat. Banyak ruang kosong diantara
foto-foto, yang jika dipajang foto akan terlihat lebih rapi.
Tidak perlu waktu lama untuk sang
adik menghabiskan makanan di piringnya. “Selesai.” Bilang sang adik sambil
memperlihatkan piringnya yang sudah bersih kepada kedua orang di hadapannya. “kamu
ambil nasinya sedikit. Lauknya juga. Pantas cepet abisnya. Tambah lagi nasi dan
lauknya.” Pinta gadis remaja yang umurnya setengah windu lebih tua dibanding
adiknya. “Enggak. Aku mau keatas lanjut baca komik.” Tidak menggubris pinta
kakaknya. Sang adik pergi sambil menjulurkan lidahnya, mengejek kakaknya.
Di piring sang ibu dari kedua
anak remaja itu, setengah dari nasi yang sudah diambilnya masih menyisa. Namun,
tangan kanannya yang sedang memegang sendok berhenti sejenak menyendok makanan
yang ada di piring di hadapannya. Kedua mata sang ibu melirik gadis remaja itu.
Melihat wajah anaknya yang kini sudah terlihat lebih dewasa, teringat kembali kenangan
manis saat gadis remaja itu ketika masih anak-anak. Ibu dari gadis remaja itu
baru tersadar, bahwa tinggi anaknya sudah berbeda dari yang ada di ingatanya. “Ada
hal yang mau ibu tanya ke kamu.” Dengan ragu, wanita yang tengah mengenakan
terusan lengan pendek dengan motif bunga-bunga, mencoba bertanya sesuatu kepada
gadis remaja yang sedang berada di depanya. “Kamu kenapa membuang semua foto
ayah kamu? Ibu menemukan tumpukan foto ayah kamu di tempat sampah depan rumah.”
Wanita itu melanjutkan pertanyaanya.
“Aku gasuka lihat wajah ayah, bu.”
Jawab gadis remaja itu. Melirik wajah ibunya sebentar, lalu melanjutkan makan
makanannya.
“Kenapa kamu buang? Kamu bisa
saja pura-pura tidak melihat foto-foto ayahmu.” Tanya ibu gadis remaja itu.
“Aku muak, bu.” Jawab gadis
remaja itu. “Ayah tuh jahat, pergi seenaknya. Ninggalin kita, bu. Ninggalin aku,
ibu, ninggalin adik yang masih kecil.” Jelas gadis remaja itu. Menjelaskan alasan
ia membuang foto-foto ayahnya yang terpajang di dinding. Sudah lebih 3 tahun
keluarga itu tanpa sosok seorang ayah yang bisa menjadi panutan kedua gadis
remaja dalam keluarga itu. “Kenapa ibu masih saja suka memandangi wajah orang
yang udah ninggalin ibu.” Lanjut gadis itu.
“Bukan begitu, ada alasan yang
mungkin kita tidak tahu, mengapa ayah kalian pergi. Ayah kamu tidak jahat.” Jawab
ibu dari gadis remaja itu.
“Kalo ayah tidak jahat, lalu
siapa yang jahat bu? Tuhan?” Sahut gadis remaja itu kepada ibunya. “Seenaknya aja
ayah pergi. Dia pikir, kita tidak perlu dirinya. Memangnya ibu bisa terima
ditinggal ayah?” Lanjut gadis remaja itu.
“Ibu bersedih ditinggal ayah. Ibu
pun sering bertanya-tanya, mengapa ayah pergi ketika kita membutuhkannya.
Namun, hal yang sudah dipertemukan Tuhan memang pada akhirnya akan dipisahkan
kembali. Cepat atau lambat. Kita hanya perlu mensyukri tiap waktu bersamanya.” Jawab
ibu “dimanapun ayah kamu sekarang, ibu harap ia bisa bahagia.”
“Berarti Tuhan jahat dong, bu? Tuhan
yang jahat.” Tersentak gadis remaja itu menanyakan pertanyaan demi pertanyaan
kepada ibunya. Mencoba mecari jawaban atas perginya sosok ayah yang seharusnya
berada di tengah-tengah keluarga mereka. Baginya, perginya ayahnya merupakan
hal yang jahat, tak bisa termaafkan. Bertanya, mengapa ibunya bisa begitu saja
membiarkan kemalangan yang menimpa dirinya. “Harus ada yang bisa disalahkan,
bu.” Ada rasa sesak yang ia rasakan, tak bisa ia tampung dalam dirinya, dan tak
bisa membiarkan tak menyalahkan siapapun atas rasa sesak yang ia rasakan atas
perginya ayahnya.
“Tidak, nak. Tidak.” Terlihat raut
sedih dari wajah ibunya, namun ia tak akan mengeluarkan air mata yang sudah
terbendung dihadapan anak tertuanya itu. Melihat wajah anak tertua yang ada
dihadapannya itu, mengingatkan ia kembali kepada pria yang dahulu amat ia
cinta. Raut wajah kesal anak tertuanya itu mirip sekali dengan wajah pria itu. Betapa
mereka dahulu sering berdebat mengenai indahnya bunga anggrek, yang bagi ia
bunga hanyalah bunga. Semua sama saja, tidak ada makna yang terkandung disetiap
jenisnya. Butuh waktu lama untuk ia membiarkan bunga anggrek tumbuh di
pekarangan rumah mereka, setelah perdebatan demi perdebatan dilalui.
Menyisakakan keheningan diatas meja makan, gadis remaja itupun segera menghabiskan makanannya. Selalu, di kepala gadis remaja itu terlintas kemalangan ibunya yang ditinggal oleh ayahnya. Betapa ia tidak sudi melihat ibunya yang kini selalu terlihat bersedih, duduk sendiri memperhatikan pekarangan yang ditumbuhi bunga anggrek dahulu mereka tumbuhi. Teringat kembali, kata-kata maaf sang ayah kepada dirinya, selalu berhasil membanjiri air mata gadis remaja itu. Baginya, dalam kepergian ini ayahnya lah yang menjadi sosok jahatnya.
Menyisakakan keheningan diatas meja makan, gadis remaja itupun segera menghabiskan makanannya. Selalu, di kepala gadis remaja itu terlintas kemalangan ibunya yang ditinggal oleh ayahnya. Betapa ia tidak sudi melihat ibunya yang kini selalu terlihat bersedih, duduk sendiri memperhatikan pekarangan yang ditumbuhi bunga anggrek dahulu mereka tumbuhi. Teringat kembali, kata-kata maaf sang ayah kepada dirinya, selalu berhasil membanjiri air mata gadis remaja itu. Baginya, dalam kepergian ini ayahnya lah yang menjadi sosok jahatnya.
Comments
Post a Comment