Cerbung: Sanjung Kepergian Dalam 4 Bagian


Bagian IV: Selamat Ulang Tahun, Ibu!

“Bu, hidup itu berjalan seperti bajingan ya.” Sambil menatap nama ibunya yang tertulis di sebuah makam, seolah raga ibunya berada di depannya. Dengan penuh harap akan ada balasan dari ibunya, “Banyak hal yang masih belum aku mengerti, aku masih butuh ibu, juga ayah.” Walaupun telah bertahun-tahun ditinggalkan ibunya, ia masih merasa  sulit untuk merelakannya. Bagaimana juga, ia telah ditinggalkan oleh ayahnya semenjak ia beranjak dewasa. Setelah dewasa pun pernah, anak yang telah ia rawat dengan penuh harap juga meninggalkannya tanpa sebentar saja menemuinya terlebih dahulu. Ibunya pun lalu ikut meninggalkannya, orang yang selalu sabar membimbingnya. Sering emosinya padam oleh petuah-petuah baik yang diajarkan ibunya.
Hidup tidaklah adil baginya, pertemuan-pertemuan diakhiri dengan kepergian memilukan dalam hidupnya. Menemukan kedamaian dalam kepergian orang-orang yang ia cintai bukanlah hal mudah, hidup pun tidak memberikan bagaimana untuk melalui semuanya, apalagi orang-orang yang seharusnya membimbingnya, memberikan petuah-petuah dalam menjalani hidup sudah tidak dapat melakukan itu semua. Sungguh kepergian itu sangat dekat dengan manusia, baginya. Sekuat apapun ia menahan, jika saatnya harus melepaskan kepergian, tidak ada hal yang ia bisa lakukan. Berat pun juga untuk mengikhlaskan harus ia lewati.
Banyak hal yang ia ingin sampaikan namun bibirnya kelu untuk mengucapkannya. Sejuknya hembusan angin yang meniup lembut, membuat sekujur tubuhnya mendingin, seolah meredamkan seluruh emosinya yang ia rasakan. Tidak adilnya hidup harus ia langkahi, walaupun akan berat untuk melangkah kedepan melanjutkan perjuangan hidup. Bertahun-tahun merupakan waktu yang lama, namun akan sebentar jika selalu berada dipusaran tidak bisa untuk merelakan.
“Bu, aku rindu.” Hanya itu yang ia bisa sampaikan. Berjalan melangkan ke makam sebelahnya, tertulis nama ayahnya pada makam yang sudah tua. Walaupun sudah dikeramik, namun lumut hijau mengotori sisi-sisinya. Tertulis nama ayahnya yang telah memudar, namun masih bisa ia baca. Ia sudah lupa kapan ia menyebut nama itu dengan bibirnya, namun tak pernah lupa untuk mendoakan nama itu dalam hatinya setiap ia berdoa. “aku pun rindu ayah, jaga ibu baik-baik disana ya, yah.”
“Ayah, ibu, sampai jumpa lagi.” Seolah pamit di depan kedua orang tuanya, ia berjalan pergi meninggalkan makam dimana peristirahatan terakhir orang tuanya. Menemui adiknya yang sudah menunggunya sedari tadi. Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.


Sesampainya ia di rumahnya, waktu telah menunjukan lima sore. Terlihat dari luar rumah , cahaya lampu rumah telah menyala. Setelah mematikan mesin mobil, wanita itu mengusap matanya yang terlihat masih memerah. Berdiam sebentar, namun tak lama daun pintu rumahnya itu bergerak dan pintu pun terbuka. Terlihat sesosok anak laki-laki keluar dan menghampiri wanita itu, dengan menggenggam gagang permen anak laki-laki itu berjalan perlahan. Baju putihnya kotor dengan noda merah permen yang masih menempel di mulutnya.
“buu, ibu udah pulang?” Tanya anak laki-laki itu. “Tadi pagi aku bangun, aku cari ibu, eh yang ada hanya ayah.” Lanjut anak laki-laki itu kepada ibunya. Dengan perlahan membuka pintu mobil dan menghampiri anak laki-laki itu, wanita itu menyambutnya dengan pelukan lembut dan menggendongnya dengan kedua tangannya. “ibu pergi sebentar aja, nak. Kamu makan apa itu?” Jawab wanita itu kepada anak laki-laki yang merupakan anaknya. “Ayah kamu dimana?” sekaligus Tanya wanita itu kepada anaknya. Anak laki-laki dengan potongan rambut pendek dan disisir kearah kanan. Bibir mungil merah karena pewarna permen, dan nafas terengah seraya menjawab pertanyaan ibunya. “Permen dari ayah, ayah ada di dapur tuh.”
“kamu sudah pulang, baru saja aku mau telpon.” Sambut seorang pria dengan celemek yang masih menggantung di tubuhnya. Tercium aroma manis, dan juga pekat yang menyengat hidung. Api pada kompor masih menyala redup, diatasnya kuah coklat kehitaman yang meletupkan gelembung-gelembung kecil. “Ayah!” panggil anak laki-laki itu berusaha meraaih tubuh ayahnya dengan kedua tangannya sebagai tanda ingin digendong oleh ayahnya.
“kamu masak apa, mas?” Tanya wanita itu kepada pria dihadapanya yang kini telah menggendong dengan tegap anak laki-lakinya. “Ayam kecap kesukaan kamu. Aku kan sempat belajar resepnya dari ibu kamu dulu.” Jawab pria itu beriringan dengan menurunkan anaknya dan dengan segera mematikan nyala api kompor. Dituangkannya makanan di atas wajan ke piring bening. “Itu juga ada bakwan udang.” Sambil memalingkan wajahnya seraya menunjukan makanan-makanan yang sudah tertata di atas meja makan. “ayo makan.” Ajak pria tadi, melepaskan celemek pada tubuhnya lalu merangkul lembut kedua bahu wanita itu dengan kedua tangannya.
Mereka pun telah duduk berhadap-hadapan, namun sang anak laki-laki menolak untuk ikut duduk bersama dan lebih memilih duduk di bawah meja makan. Dengan penuh perhatian pria itu menyendokan nasi dan menaruh lauk pauk ke piring wanita yang merupakan istrinya itu. “enak mas, wah kali ini masakan kamu sempurna.” Bilang wanita itu kepada pria dihadapannya memuji makanan yang dimasaknya sempurna. Dengan lahap ia makan, teringat bahwa ia melewatkan makan siang.
“Bagaimana hari ini? Ulang tahun ibu kamu, kan? Aku ingin menemani tapi kamu larang.” Tanya pria itu kepada kepada wanita yang tengah melahap makanannya. “Aku rindu ibu juga ayah, mas. Tapi entah kenapa aku merasa lega kali ini.” Jawab wanita itu menjelaskan perasaanya kepada pria yang sudah ia nikahi lebih dari sepuluh tahun itu. “Nanti malam kita doain orang tuaku ya mas.” Ajak wanita itu. Pemandangan mereka makan saat itu mengingatkan wanita itu kepada keluarga kecilnya dahulu. Bukan ibu dan adiknya kini yang menemaninya makan, namun suami dan anaknya lah yang menemaninya dan juga menemani kesehariannya kini. Tamat!

Catatan penulis: Tulisan ini dibuat terinspirasi dari beberapa lagu Nadin Amizah. lirik-liriknya yang mengajarkan pesan hidup memutuskan saya untuk menuangkannya kedalam sebuah cerbung ini. Penulis ingin pembaca untuk dapat mengambil hikmah dari cerita fiktif ini. Bahwa sesungguhnya kepergian merupakan hal yang mutlak adanya dalam setiap pertemuan, oleh sebabnya itu setiap pertemuan menjadi bermakna. Menyanjung setiap moment kebersamaan dan tidak menyiakanya. Pun jika kepergian sudah ditemui, baiknya untuk mengikhlaskan walaupun sulit, agar hidup lebih ringan untuk dijalani.
Banyak kendala yang ditemukan dalam pembuatan tulisan ini, terlebih sudah lama saya mengekspresikan diri dalam sebuah tulisan. Ditambah kesibukan dalam pekerjaan yang terkadang sulit untuk membagi waktu untuk melanjutkan tulisan ini. Semoga kedepannya saya masih memiliki keinginan untuk menulis karena dahulu sewaktu berada di sekolah menengah atas, menjadi penulis merupakan cita-cita saya.
Terima kasih untuk Helena, yang mengajak saya untuk challenge menulis tulisan dalam sebulan. Saya memiliki kesempatan untuk kembali mengekspresikan diri kedalam tulisan. Untuk Helena, hope you have a beautiful life, semua kegundahan dalam diri bisa hilang, karrir yang bagus, you are strong woman! I know you’ll become a successful woman someday. Jangan lupa, traktirannya:D

Comments

Popular Posts