Cerbung: Sanjung Kepergian Dalam 4 Bagian
Bagian II: Semoga kamu baik-baik saja, nak!
Di sebuah
ruang dengan dinding bewarna putih, terdapat boks bewarna coklat di pojok
ruangan. Tertulis pakaian bayi yang dituliskan dengan spidol bertinta bewarna
hitam. ‘tik..tik..tik’ Suara jarum jam yang bergerak, dua jarum jam saling
berlawanan. Jarum yang paling besar menunjuk pada angka 2 dan yang satunya pada
angka 8. Berbaring lemas seorang wanita diatas ranjang di dalam ruangan itu.
Tubuhnya lemas, namun matanya menatap langit-langit ruangan penuh dengan
kekosongan. “aku buatin kamu sarapan, bubur ayam.” Berjalan masuk kedalam
ruangan seorang pria mengenakan kemeja dengan lengan kedua kemeja tergulung
sampai sikut. Rambut disisir kesebelah kanan, dengan senyum sedikit
berhati-hati membawa mangkuk yang berisikan bubur ayam. “terakhir kali aku
buatin kamu bubur tuh, seingetku rasanya hambar ya..semoga kali ini rasanya
tidak hambar.” Dengan tawa seadanya, pria itu menghampiri wanita yang berbaring
di atas ranjang mengenakan terusan santai bermotif bunga-bunga.
“Terima
kasih, mas. Aku belom laper.” Ketus wanita itu menolak makanan yang dibawa pria
yang dua kancing atas kemejanya tidak dikancingkan. Namun, tak mendengar
perkataan wanita itu. Tangan pria itu sudah menyodorkan sendok ke bibir wanita
itu. Dengan malas, wanita itu membuka sebagian kecil mulutnya, mengunyah dengan
perlahanan. “masih hambar, mas.” Ucap wanita itu, yang menurutnya bubur yang
dibawakan pria tadi terasa hambar. “masa sih? Padahal aku udah mengikuti tutorial di internet, loh..” sambil mencicipi sedikit
bubur yang mangkuknya ia pegang di tangan kirinya. Menurutnya bubur tersebut
sudah terasa enak, hanya kurang kecap asin sedikit saja.
“Mama
sudah aku telpon, katanya secepatnya akan kesini bersama dengan adikmu.” Terang
sang pria itu kepada wanita yang matanya langsung menatap lesu pria tadi.
“Sebentar lagi sampai kayaknya.” Lanjut pria itu. Di meja di sebelah terlihat
bingkai dengan foto pria dan wanita tadi bersebelahan dengan latar belakang
sebuah taman yang ditumbuhi bunga sakura berguguran. Di depannya, berbaris rapi
2 botol obat yang tutupnya dibiarkan terbuka.
Terdengar
suara mobil melintas dari luar ruangan yang ternyata terdapat pada lantai dua
sebuah rumah bercat putih padam. Mobil tersebut berhenti tepat di samping jalan
setapak menuju pintu rumah. Pintu coklat dengan hiasan nomor rumah, terbuka,
pria tadi terlihat menghampiri mobil sedan tua yang menurutnya mobil tersebut
seharusnya sudah tidak layak untuk dipakai lagi.
“Dimana
istrimu, nak?” keluar dari dalam mobil, seorang wanita tua berkacamata dengan
bingkai bewarna emas. Disusul dengan pinta untuk berhati-hati keluar dari mobil
dari seorang wanita muda disisi bersebrangan dari wanita tua tadi. Dengan
terburu-buru wanita itu menyalami pria yang menghampiri tadi dan langsung
berjalan masuk ke dalam rumah setelah mengetahui keberadaan istri dari pria
yang ditanyainya tadi.
Melihat
wanita di atas ranjang mengenakan terusan santai bermotif bunga-bunga, wanita
tua itu menghampirinya dengan tergesa-gesa. Duduk disisi ranjang, lenganya
meraih rambut hitam wanita yang berada di hadapannya. “Sudah sudah ya, nak.
Ikhlaskan saja.” ucap lembut wanita tua itu kepada wanita yang merupakan anak
tertuanya. Berbeda dengan anak termudanya, menurut wanita tua itu, anak
tertuanya merupakan anak yang kuat dan tidak pernah mengeluh, maupun terlihat
sedih. Namun, kini terbaring lemas dan bertatapkan layu menatapnya. Meneteskan
air mata dari kedua sisi matanya, membuat wanita tua itupun tak kuasa
membendung air mata. Memeluknya perlahan, dan menanyakan keadaan perasaan anak
tertuanya. Walaupun tahu, tidak akan ada wanita yang akan setegar itu
menghadapi apa yang baru saja dilalui anak tertuanya.
“Ibu,
sesakit inikah rasanya ketika ibu melahirkan aku?” Tanya wanita itu kepada
ibunya yang ia tatap dengan lemas, nada suaranya penuh dengan kecemasan.
“Kamu
yang kuat ya, nak. Kamu anak kuat dari kecil, pasti bisa melalui semua ini.”
Jawab ibunya, walaupun tidak secara langsung menjawab pertanyaan anaknya itu.
Dalam hatinya berdoa penuh harap, penuh dengan rasa iba terhadap kemalangan
anak tertuanya.
Tak lama
berselang, masuk kedalam ruangan seorang wanita muda mengenakan pakaian rapi,
kemeja merah muda lusuh dengan sebuah syal abu-abu berbintik mengelilingi
lehernya. Melihat kakaknya terbaring lemas, ia tak kuasa menahan air mata,
langsung menghapiri dan memeluk erat kakaknya. “Pelan-pelan, dek. Kakakmu masih
lemas.” Mengingatkan ibu kepada wanita muda itu.
“kakak
gak papa? Aku dengar beritanya langsung lemes, kak.” Terang si adik ke pada
kakaknya dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Tersadar setelah sekian
lama, baru kali ini mereka merasakan hubungan emosional yang erat. Setelah lama
berpisah tempat tinggal , bahkan berkomunikasi pun jarang. Memang, tempat
tinggal mereka walaupun berdekatan, dapat ditemput 30 menit saja, karena
kesibukan masing-masing jarang sekali mereka bertemu. “Aku ga kerja dulu, sudah
bilang sama bos aku, aku temenin kakak disini.” Lanjut si adik.
Dengan
tenaga yang tersisa, ia berusaha untuk beranjak dari tempat tidur. Rasa nyeri
masih menyelimuti seluruh sendi-sendi tubuhnya, bahkan ia tak kuasa menahan
rasa sakit pada perutnya. Ibunya memintanya untuk perlahan-lahan dan tidak
perlu banyak bergerak. setelah terduduk, ibunya langsung menyodorkan minuman
untuk diminumnya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, duduk terdiam. Emosinya pun
sudah redup dimakan seluruh rasa kekecewaan, hanya tangisan yang dapat dia
keluarkan.
Terang suaminya, ia seharusnya
dirawat saja di rumah sakit, namun ia memaksa untuk istirahat di rumah saja 5
jam setelah tindakan dari dokter yang menanganinya. Kejadian yang dialaminya
memang amat memilukan, suaminya hampir beberapa kali gagal terlihat kuat
dihadapannya, berusaha dengan semua tenaga menyembunyikan semua emosi yang
menyelimuti dirinya.
Dia baru saja menyelesaikan
sebuah pertemuan dengan rekan kerja ketika mendapati sebuah panggilan di
ponselnya dari istrinya. Tak lama mendengar suara istrinya yang memerlukan
bantuannya, ia bergegas pergi menuju rumahnya. Memerlukan waktu yang sedikit
lama kala itu, dikarenakan kondisi kemacetan jalan yang tak bisa ia hindari. Ketika
samapi di rumah, dia mendapati istrinya terbaring lemas di lantai di ruang
tengah bersimbah darah di antara kedua kakinya. Langsung saja dia bergegas
menuju gawat darurat sebuah rumah sakit.
Di sebuah
rumah sakit, tak henti-hentinya iya berjalan kesana kemari, memikirikan semua
kemungkinan, di depan sebuah ruang operasi. Namun, kemungkinan terburuk yang selalu
ada dipikirannya selama ini sulit sekali ia buang jauh. Teringat kembali
perkataan dokter kandungan dua bulan lalu ketika terakhir kali mereka memeriksa
kondisi kandungan istrinya. Perkataan yang saat ia dengar, membuat dia tidak
bisa tidur nyenyak. Terlebih, ketika dokter jaga gawat darurat memberitahu
bahwa sang istri harus segera diambil tindakan.
Melihat istrinya
lemas belum sadarkan diri setelah beberapa jam melalui sebuah operasi, tak
kuasa ia menahan air mata. Apalagi, harus melewati sebuah kenyataan pahit. Sesuatu
yang seharusnya mereka lalui dengan tawa kebahagian sekarang sirna di hadapan
mereka. Buah cinta yang sudah mereka tunggu dan rawat selama ini harus pergi
meninggalkan mereka.
Comments
Post a Comment