Cerbung: Sanjung Kepergian Dalam 4 Bagian
Bagian III: Pertemuan Kembali Dalam Sebuah Pesan
“Kak, kakak masih ingatkan besok
ulang tahun ibu.” Pesan yang tampil di layar telepon genggam yang berada diatas
meja di samping sebuah tempat tidur. Terbangun seorang wanita dari tidur
lelapnya mendengar nada notifikasi dari telepon genggam itu. Setelah selesai
membalas pesan, ia beranjak dari tempat tidur dan bergegas mandi dan mengenakan
pakaian. Ia menemukan pakaian kemeja hitam berada menggantung di lemari
pakaiannya dan langsung mengenakannya. Setelah semua sudah siap, matanya
tiba-tiba memandang sebuah buku lusuh tua bewarna coklat tua. Teringat dalam
lamunannya, seminggu sebelumnya adiknya memberikan buku tersebut.
Wanita itu pun mengambil buku lusuh tua
bewarna coklat tua itu dan duduk di pinggiran tempat tidurnya. Membalikan
halaman tiap halamannya. Tertulis nama ibunya pada sampul depan buku itu. Terang
sang adik, ia menemukannya diantara tumpukan benda-benda tua di gudang rumahnya
dahulu.
Setelah membolak-balikan tiap halaman,
matanya tertuju terpaku kepada sebuah halaman yang tertulis tanggal saat ia dan
ibunya membicarakan soal kepergian ayahnya dahulu. Teringat betapa ia dahulu
kesal karena tidak menemukan jawaban atas hal yang ia pertanyakan saat itu.
“Mas, mas apa kabar disana? Aku
harap baik-baik saja ya mas. Tuhan disana memperlakukanmu adil kan, mas. Kamu
sudah tidak merasakan sakit lagi. Aku dan kedua anak kita disini rindu kamu
mas. Mereka mirip sekali denganmu. Yang paling kecil, sudah tumbuh menjadi anak
yang pintar. Seharian ia membaca komik, sama seperti kamu. Sepertinya jika
sudah besar nanti dia akan seperti kamu, menjadi seorang yang pandai
berdongeng. Banyolannya selalu mengundang tawa, jadi tidak terasa sepi lagi
rumah ini walaupun tidak ada kamu, mas. Yang besar, rindu kamu. Tapi, tak mampu
memperlihatkannya. Sama seperti kamu, mas. Dahulu pun kamu kalau rindu aku dan
anak-anak bisa murung, bisa lama sekali murungnya. Hilang murungnya ketika
rindunya sudah terobati, bertemu dengan aku. Namun, sulit untuknya
menghilangkan rasa murungnya, mengobati rasa rindu ke kamu. Memang berat, aku
yakin suatu saat dia akan mengerti kepergian kamu. Semoga kamu dapat hadir di
mimpi-mimpinya, mas.” Tertulis sebuah diary yang dituliskan ibunya dahulu.
Terdiam sejenak setelah selesai
membaca halaman itu, dalam pikirannya tumbuh berbagai macam kenangan
keluarganya dahulu yang selama ini sulit untuk ia ingat. Memang ayahnya terlalu
cepat meninggalkan mereka, namun kenangan bersamanya lah yang paling ia rindu. Menuntunnya
pergi ke sebuah taman untuk belajar bersepeda, yang dalam 10 kali percobaan tak
kunjung berhasil mengayuh tanpa dipegangi ayahnya. Waktu kecil dahulu, wanita
itu sering sekali memanjat pohon-pohon, yang membuat ayahnya khawatir bukan
karuan. Pernah suatu ketika ia memanjat sebuah pohon rambutan untuk memerik
buahnya yang banyak matang bewarna kemerahan. Sialnya, ia kehilangan
keseimbangan dan terjatuh. Untung saja, ayahnya yang belum lama melihatnya
berada diatas sebuah pohon sigap menangkan anaknya yang terjatuh.
Jika diingat, rasanya waktu yang
sebentar itu penuh dengan kenangan manis. Sulit untuk wanita itu mengingat
kenangan pahit kecuali saat-saat terakhir ayahnya meninggalkan mereka. Kesediahan
yang harusnya ia rasakan tertutupi oleh rasa kemarahan. Kemarahan yang dipenuhi
akan sesal pengandaian jika ayahnya berada di dekatnya lebih lama lagi. Akan banyak
kenangan-kenangan manis yang mereka lakukan, tapi nyatanya semuanya itu sirna. Tertampar
oleh kenyataan itu yang terulang-ulang di pikirannya, membuatnya lupa akan
kenangan manis yang telah mereka lakukan.
Wanita itu pun sadar betapa
konyolnya saat mudanya dahulu. Jika saja ia bisa mengulang waktu, seharusnya ia
tidak perlu marah akan hal itu. Perdebatan dengan ibunya pun kala itu
seharusnya dapat dihindari. Teringat perkataan dan hal-hal yang ia lakukan,
membuatnya sadar betapa saat itu ia dapat melukai ibunya juga.
Setelah itu
pun wanita itu beranjak menuju mobilnya, dan pergi menuju suatu tempat. Setelah
menempuh 2 jam perjalanan ia telah sampai di tempat yang di jalan masuknya
berdiri gapura besar bercat putih kusam. Pada gapura tersebut tertulis sebuah
nama tempat, namun sulit untuk dibaca karena huruf-hurufnya telah tertutupi
oleh kotoran dan debu.
Melangkahkan
kaki, wanita itu menyusuri jalan setapak yang berbatu dan disisi jalannya
tumbuh berbagai macam tanaman liar. Di ujung jalan setapak, berdiri seorang
wanita dengan mengenakan pakaian hitam juga dan menyapanya dari kejauhan. “kak,
sini ayo kita ketempat ibu.”
“kamu
sudah dari tadi?.” Tanya wanita itu kepada wanita yang tadi menyapanya dengan
panggilan kakak. “uh..belom lama sih, disini sejuk kak walaupun matahari lagi
terik.” Jawab wanita yang merupakan adiknya itu. Mereka pun menyusuri tempat
tersebut, tumbuh pepohonan lebat yang daun-daunya yang saling bertumpu satu
sama lain menghalangi sinar matahari untuk masuk. Tanah tempat itu dipenuhi
dengan daun-daun gugur yang telah tidak hijau lagi, bewarna kecoklatan. Banyak berdiri
batu nisan yang telah usang, namun di beberapa sudut juga ada tumpukan tanah
yang telah dikeramik.
“ini kan
makamnya ibu, kak? Baru tahun lalu aku kesini udah kotor aja.” Tanya adiknya,
berdiri mendahului sang kakak dan memastikan bahwa di depan mereka merupakan
makam ibu mereka. Gundukan tanah yang telah dikeramik dengan warna merah muda,
diatasnya tersusun batu-batu kecil tersusun rapi namun beberapa daun gugur
membuat makam tersebut terlihat kotor. “iya, dik. Itu disebelah kan makam ayah.”
Menjawab pertanyaan adiknya sambil menunjukan makam yang tak jauh dari sana. Mereka
pun memungut daun-daun gugur, membersihkan tempat peristirahatan terakhir
ibunya. “abis ini kita bersihin makam ayah ya” ajak sang kakak.
“ibu
selamat ulang tahun, aku bawa bunga anggrek kesukaan ibu.” Sambil meletakan serangkaian
bunga yang telah tersusun indah di atas sebuah pot bunga keramik putih. Menjulur
bunga-bunga bermekaran bewarna merah muda merekah. Di bawah pot bunga yang di
letakan tadi tertulis nama ibu mereka yang disebuah keramik putih dengan tinta
hitam yang telah pudar pada sebagian hurufnya. Adiknya pun menoleh kepada
kakanya yang terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “kak, ibu sudah
meninggalkan kita 10 tahun kak, kalo kakak sedih terus setiap kita kesini
kasian ibunya juga kak.” Tenang sang adik kepada kakaknya, dilanjuti dengan
kata-kata yang menyemangati kakaknya. Menurut adiknya, seharusnya di hari ulang
tahun ibunya, dirayakan dengan suka cita. Apalagi, ibunya telah lama pergi
meninggalkan mereka.
Telah lama
mereka berdua di tempat itu, banyak hal yang diceritakan adiknya kepada ibunya
yang kini sudah tidak dapat menanggapinya. Dimulai dari kesuksesan karirnya
setahun belakang dan juga kehidupan rumah tangganya. Namun, kakaknya tetap
terdiam membisu, menatap tulisan yang bertuliskan nama ibunya dengan penuh
kesedihan.
“ibu,
ayah aku pulang dulu ya. Aku sempetin kalau ada waktu menemui lagi.” Telah merasa
usai urusannya di tempat itu. Wanita yang mengenakan kemeja hitam dengan
untaian hiasan motif bunga pada kedua sisinya pamit. “kak aku duluan, aku
tunggu di depan ya.” Bilang sang adik kepada kakaknya.
Comments
Post a Comment